• Home
  • About
  • Archive
  • Contact
  • Links
  • SITEMAP
Subscribe: Posts | Comments | E-mail
  • Blogging
  • Gadget
  • General
  • Linux & Unix
  • Music
  • notepad
  • Personal
  • Spiritual

zidev

Posted on July 14, 2005 - by Arif

Grebegan!

Fenomena

Tadi sekitar jam setengah dua belas malam, 2 jam yang lalu dari sekarang ada sebuah kejadian yang ANEH. Begini ceritanya, ketika kami (karena kami berempat) sedang duduk di depan warnet kami dikejutkan oleh beberapa anggota POLISI yang datang ke tempat kami. Tapi mereka tidak masuk, mereka hanya di luar. Apa yang di lakukannya di depan warnet?. Bukan soal sweeping software, bukan pula mau memakai jasa internet.

Mereka di luar menangkap para penjudi ( baca: main kartu pake taruhan duit ).
Di luar warnet tempat saya bekerja memang setiap malam selalu saja di jadikan tempat berjudi kartu. Malam ini mungkin malam yang naas bagi mereka. Mereka di ciduk POLISI!.
Saya waktu itu hanya berfikir mungkin inilah program KAPOLRI yang baru, yang menginstruksikan seluruh KAPOLDA untuk memberantas judi. Saya pun sempat kagum saat itu.

"Dengan dirazia dan ditutup, itu kan nggak sulit,"

Itulah ucapan KAPOLRI yang baru Jenderal Polisi Sutanto di sela sela acara serah terima jabatan KAPOLRI dari Jenderal Polisi Da`i Bachtiar Senin (11/7).

Tapi kekaguman saya berubah menjadi apalah namanya, kekecewaan mungkin tepatnya. Sebab berselang setengah jam dari kejadian itu, para pelaku perjudian kembali ketempat tadi mereka di tangkap. Dan merekapun bercerita bahwa mereka hanya di bawa keliling muter muter Purwokerto, dan yang lebih ironis mereka di "palak" oleh para POLISI yang menangkap mereka dengan alasan untuk membeli bensin.

Jika kepada penjudi kelas teri saja yang omsetnya paling berkisar 50 ribu seperti ini saja mereka bersikap seperti itu. Bagaimana dengan penjudi kelas kakap yang omsetnya sampai berjuta juta, bukankah uang bensin mereka jelas lebih besar :).

Jadi dengan dirazia dan ditutup, itu kan nggak sulit wong habis itu dibebasin lagi setelah membayar uang bensinnya Pak Polisi

This entry was posted on Thursday, July 14th, 2005 at 2:24 am and is filed under Fenomena. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Comments

We'd love to hear yours!



  1. Visit My Website

    July 14, 2005

    Permalink

    idon said:

    hidup judi!!!!!!!



  2. Visit My Website

    July 15, 2005

    Permalink

    Robin Hood said:

    Barang gituan dah nggak heran, man… Kayane malah semua dah tahu kalo polisi ( nama lainnya “Bangsat Berseragam “) sebagian besar begitu…. busuk sebusuk - busuknya busuk…. walau nggak semuanya begitu… tapi gw yakin polisi kalo masih di bawah 30 tahun kelakuannya lagi bangsat - bangsatnya…. 30 tahun keatas dikit udah mulai kurang… fokusnya biasanya cari duit dan nama buat karir….. Trus naik dikit… Usia 35 ke atas biasanya polisi ginian mulai rajin nyari “dedaunan”… dan mulai “menaiki” daun - daun muda…… dan penyakit ginian tambah parah kalo pangkatnya lebih tinggi….. sok atuh mo protes apa… kenyataan lapangan bro….nggak dikit kok polisi yang kena tangkep lagi me”naik”i daun di baturraden… ada yang sedang menikmati “pupuk” setan macam shabu - shabu…
    Bro, gw berani nulis ginian karena gw ga suka “naikin” daun… dan gw juga nggak suka pake “pupuk” setan… gw ga ngerasa gw bersih tapi gw bukan penegak hukum, jadi kalo gw kotor ya ga masalah… iya kan…



  3. Visit My Website

    March 3, 2008

    Permalink

    Tanpa Nama said:

    Saya adalah suami dan Bapak dari 2 orang anak.
    Sudah 12 tahun saya dendam karena istri saya pernah dirusak mental dan psikisnya dan fisiknya oleh seorang Letnan Kolonenl Polisi Anto Tobing yang pernah bertugas di Surabaya sejak tahun 1997.
    Waktu itu Nana (Nama samaran) istri saya saya masih duduk di bangku sekolah SMA kelas tiga di Depok.
    Dia pernah dijual oleh germo ke lelaki hidung belang (Letnan Kolonel Anto Tobing). Padahal ybs saat itu sudah beranak dan beristri. Hubungan berlanjut jadi jalinan cinta dari proses jual beli perempuan anak SMA selama 2 tahun.
    Sekarang Nana sangat menyesali kondisi itu terjadi karena begitu teganya seorang Letnan Kolonel yang seharusnya jadi panutan masyarakat tapi malah terlibat langsung dalam kasus ini.
    Suami tercinta
    SAya



Leave a Comment

Here's your chance to speak.

  1. Name (required)

    Mail (required)

    Website

    Message

  • Ad Ad Ad Ad
  • Search this Site

  • About

    Arif Budiman, manusia biasa yang tinggal di Purwokerto, Indonesia.
  • Blogroll







  • Tag Cloud

    • Apple Asphalt Banyumas Blog Canon Pixma Curriculum Vitae Dreaming E-book G-Tribe Gadget Game Hackintosh Health Hijri Info iPhone Islam Life Linux Lyric Movie MSI MSI Wind MSIWindowsx86 Music Netbook New Year Nokia Notebook Office 2007 OSX86 PCLinuxOS Serj Tankian Spiritual Surat Lamaran Pekerjaan System Of A Down Techno Virus Windows WordPress Work
  • Meta

    • Register
    • Log in
    • Entries RSS
    • Comments RSS
    • WordPress.org
  • Sponsored

© 2008 zidev - thoughts become things