Posted on October 5, 2005 - by Arif
Ramadhan adalah mercon
Seperti kita ketahui bersama pada hari ini tanggal 1 Ramadhan 1426 Hijriyah, itu berarti pertanda Bulan yang penuh Hikmah ini dimulai. Ya, bagi umat Islam bulan Ramadhan adalah bulan yang di istimewa. Dan saya bersyukur masih di beri kesempatan untuk menikmati bulan Ramadhan kali ini.
Tidak, saya tidak akan menulis tentang keutamaan bulan Ramadhan dan apa saja yang harus di lakukan pada bulan ini. Saya yakin banyak yang sudah mengerti dan bahkan banyak pula yang sudah melakukannya.
Saya cuma teringat puluhan tahun yang lalu, ketika itu saya masih berumur 10 tahunan. Pada umur 10 tahun inilah, ketika menjelang Bulan Ramadhan saya pun sibuk sama seperti teman sebaya yang lain. Sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Puasa. Bukan, saya (kecil) bukan menyiapkan sesuatu yang berhubungan dengan Ibadah bulan Puasa, tetapi lebih kepada 'permainan bulan Puasa'.
Dulu bulan puasa di kampung saya berarti sama saja dengan 'bunyi-bunyian'. Bagi yang jantungan, harus siap siap saja dengan kaget mendadak. Yang punya peliharaan ayam kampung, harus rela jika ada 1 atau 2 ayam yang mati mendadak. Karena bunyi bunyian itu, petasan itu, pèndeman (lubang di tanah dan di isi dengan karbit sebagai 'bahan peledak') itu dan segala bunyi bunyian di bulan ramadhan ada bunyi ritual yang tak terbantahkan.
Dan saya waktu itu, memilih ruji sepeda ontel sebagai senjata kami. Ruji itupun didapat sehari sebelum Puasa dengan mendatangi bengkel bengkel sepeda, dan memintanya secara cuma cuma.
Kemudian ruji itupun di buat sedemikian rupa, di tekuk agar nyaman di pegang tangan. Baut dari ruji tersebut di pasang terbalik. Baut inilah yang nantinya di isi dengan serbuk korek api, setelah itu tinggal di tutup dengan bagian samping korek api yang biasanya berwarna coklat (kami dulu sering menyebutnya sebagai rasah) dan di susul sebagai paku yang di potong ujungnya untuk menutup baut ruji tersebut. Cara membunyikannya dengna memukulkan ruji tersebut (paku nya) ke benda keras seperti batu, tembok dan lain lain. Tidak terlalu keras memang suaranya, tapi itu sudah cukup membuat kami saat itu bergembira.
Sekarang, saya tidak menjumpai satupun permainan seperti itu lagi. Disamping bahan dan cara pembuatannya yang cukup ruwet, mungkin anak anak sekarang sudah terlalu modern. Mereka tidak perlu mengerut batang korek api dan mengisikannya ke dalam ruji untuk menunggu buka puasa. Sekarang mereka hanya perlu menyalakan komputer dan berpetualang bersama teman teman yang lain seluruh indonesia dalam permainan game online misalnya, atau baku tembak dengan para terrorist dalam game Counter Strike, dan memperjuangkan Hero mereka di Warcraft DotA Allstar. Atau mungkin mereka sekarang lebih suka mengaji bersama di dalam masjid untuk menunggu bulan puasa tidak seperti puluhan tahun yang lalu itu.
DoRR! … Dan biarkan nanti malam saya bermimpi memukulkan ruji itu ke batu besar yang ada di depan rumah saya itu.


