Posted on October 30, 2005 - by Arif
Minal aidin wal faidzin bukan ucapan minta maaf
Teringat dikampungku dulu, setiap sore selama bulan ramadhan diadakan pengajian di masjid. Dan saya (dulu) kebetulan mengikuti pengajian tersebut. Kebetulan pengajian tersebut pada hari-hari akhir bulan ramadhan, jadi sedikit menyinggung tentang lebaran dan tata cara maaf-maaf-an pada hari Raya Idul Fitri.
Tidak banyak yang saya ingat, maklum ingatan saya termasuk dalam kategori 'payah'. Tetapi ada sedikit yang masih saya ingat sampai sekarang, yaitu tentang pengucapan maaf pada saat silaturahmi ( halal bi halal ).
Sering saya mendengar sendiri ( atau bahkan saya melakukannya dulu) ketika seorang teman menyalami saya masih dalam suasana lebaran tentunya dengan kata-kata
Minal Aidin Wal Faidzin yah
Jika kita cuma mengucapkan kata kata tersebut, kita berarti belum meminta maaf. Karena "Minal Aidin Wal Faidzin" itu artinya kurang lebih
(Semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali kepada yang fitrah dan (semoga kita) menjadi orang yg beruntung dengan mendapatkan rahmat, pengampunan dari segala dosa, serta terhindar dari api neraka
Jadi di dalam kontek kalimat tersebut tidak ditemukan sedikitpun kalimat yang menyebutkan "permintaan maaf".
Anggapan kalimat "Minal Aidin Wal Faidzin" sebagai ucapan permintaan maaf menurut saya karena kalimat tersebut sering diucapkan ataupun dituliskan secara berurutan.
Minal Aidin Wal Faidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin
Karena banyaknya kartu ucapan selamat hari raya idul fitri mencetak seperti itu, maka biasanya masyarakat pada umumnya menyimpulkan bahwa Minal Aidin Wal Faidzin artinya ya Mohon Maaf Lahir Batin.
Nah sekarang, bagaimana ucapan yang seharusnya dilakukan jika kita bersilaturahmi pada suasana lebaran. Tentunya rekan-rekan sudah tahu jawabannya. Minimal dengan mengucapkan
Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Karena kalimat tersebut selain mendoakan kita juga sudah meminta maaf.
Kalau mau yang lengkap, sebutkan saja kesalahan-kesalahan kita kepada orang yang kita ajak bermaafan.
Sekiranya itu yang bisa saya ingat dari pengajian di sore hari bulan ramadhan (dulu).



Visit My Website
November 1, 2005
Permalink
met lebaran ye
Visit My Website
December 1, 2005
Permalink
Sep… Setju… atau gini, barang kali di dalam kalimat Minal Aidzin wal Faizdin itu terselubung makna filosofis yang secara tidak lansung menyatakan bahwa saya dan kamu sudah saling memaafkan. makna yang di fahami oleh masyarakat. tapi… nggak tau deh.
Visit My Website
April 10, 2006
Permalink
wah sampeyan ternyata hebat ya bos asem ki
Visit My Website
May 9, 2006
Permalink
Hayah ziru-ziru padahal aku wes moco blogmu ping pindho tapi aku kok pingin moco terus yo,apik lho………?swerrrrrr
Visit My Website
May 9, 2006
Permalink
Hayah ziru-ziru padahal aku wes moco blogmu ping pindho tapi aku kok pingin moco terus yo,apik lho………?swerrrrrr
Visit My Website
September 16, 2006
Permalink
ardhi88
Visit My Website
October 30, 2006
Permalink
fenomena ini memang sudah mendarah daging pada masyarakat kita, bukan hanya nda tau maknanya minal aidin wal faidzin saja tapi malah lebih tragis mengucapkannya saja banyak yang salah ex
minal aidzin wal faidzin). mohon dikoreksi jika memang saya salah
Visit My Website
October 22, 2007
Permalink
Sekedar memperbaiki ya…
Tulisan yang benar sesuai dengan kaidah transliterasi Arab —> Latin adalah
Minal ‘aidin wal faizin
‘Aidin = orang2 yang kembali ke fitrah
Faizin = orang2 yang berjaya/menang
Karena masyarakat Indonesia secara umum menyukai pantun/sajak maka ucapan tersebut digandeng dengan “Mohon maaf lahir dan batin”
Lebih afdhal jika kita mengucapkan secara lengkap yaitu “Taqqaballahu minna wa minkum wa shiyamikum wa shiyamina. Qaalu antum min khair wa minal ‘aidin wal faizin”
Lalu dilanjutkan dengan “Mohon maaf lahir batin”
Mohon dikoreksi jika saya masih ada kesalahan.
Terima kasih.
Visit My Website
October 4, 2008
Permalink
[...] in der irrigen Annahme, sie bedeute dasselbe wie mohon maaf lahir batin. Wie auch hier und hier beschrieben, bedeutet die Formel “(ein Teil) von denen, die zurückkehren (zum [...]