Posted on June 15, 2009 - by Arif
Hati-hati, Sales Regulator Tabung Gas LPG bertebaran!
Indonesia sedang musim Tabung Gas Gratis, ada saja pihak yang akan mengambil kesempatan.
Salah satunya adalah petugas LPG(?) yang bertugas akan memeriksa keberadaan tabung, selang dan kompor gas masyarakat. Kemudian petugas itu langsung mengecheck tabung gas beserta kompor serta selang. Dan dengan cekatan petugas (?) tersebut menggantinya dengan barang yang di bawanya. Dengan sedikit 'ancaman', petugas (untuk selanjutnya saya sebut sales) tersebut menjelaskan bahwa selang standar dari pemerintah tidak aman, rawan bocor; dengan menceritakan cerita tragis meledaknya tabung gas di berbagai daerah di Indonesia.
Setelah menjelaskan mengancam sekaligus memasang alat yang di bawanya. Sang sales mengeluarkan 2 lembar kertas, yang satu nota dan satu kartu garansi. Di nota tersebut tercatat beberapa ratus ribu (kisaran dua ratus ribu sampai tiga ratus ribu). Jika tuan rumah keberatan dengan harga tersebut, sales pun meminta untuk DP dulu.
Kejadian diatas menimpa istri saya kemaren sore, kebetulan saya sedang tidak berada di rumah. Setelah sales tersebut pergi istri saya baru telpon; mengabarkan bahwa tadi ada sales regulator LPG menawarkan dengan paksa barang dagangannya (Regulator Tabung dan Selang Tabung). Kecewa, karena istri saya mengijinkan sales terkutuk itu masuk kerumah dan mengobrak abrik dapur. Lebih kecewa lagi karena sales itu menawarkan barangnya dengan cara 'memaksa'. Kebetulan sales itu meninggalkan nomer handphonenya, istri saya smskan nomer handphone sales itu. Saya buru-buru sms sales itu "Ini suaminya yang tadi mas paksa2 buat beli regulator LPG. Saya minta besok mas ngambil barang yg udah mas pasang. Dan mengembalikan uang DPnya".
Selang 15 menit sales membalas "Jam 10 pagi. tenang aja pak". Gila, saya disuruh tenang katanya.
Oh iya, kemaren sore sales itu menawarkan memaksa barang yang telah di pasangnya di tabung gas kami dengan harga Rp. 300.000; dan karena istri saya tidak memegang uang segitu sang sales mengusulkan untuk DP dulu sebesar Rp. 100.000;.
Dan tadi pagi sekitar jam 9.30 pagi saya telpon kantornya. Nomer telpon kantornya tertera di nota pembelian. Sales tersebut bicara di telpon bahwa akan datang jam 10. Lalu saya tekankan bahwa jika jam 10 dia tidak datang, saya yang akan datang ke kantornya.
Dan benar saja, jam 10 kurang datanglah sales tersebut. Tanpa basa basi langsung saja saya suruh ke belakang untuk melepaskan alat yang kemaren mereka pasang. Tapi si sales duduk tanpa saya menyuruhnya
. Sebelum dia panjang lebar ngomong banyak, saya awali dulu pembicaraan. "Pokoknya saya gak mau tahu, saya minta mas lepas barang yang kemaren di pasang, dan mengembalikan DP yang kemaren di kasih istri saya, lalu pasang lagi barang yang kemaren mas lepas".
Sales berkilah bahwa dia akan melepas regulatornya saja, selangnya tidak bisa di kembalikan karena sudah di pasang. Tapi saya tetap ngotot ( mungkin sambil melotot
). Dan salespun menjelaskan kalau uang DPnya tidak bisa full dapat di ambil lagi karena sudah disetorkan, malah dia menyuruh saya datang ke kantornya untuk mengambil uang DP yang katanya gak full.
Jelas saya mencak-mencak, enak saja saya ke kantornya. "Ada urusan apa saya ama kantor kamu, saya taunya urusannya ama kamu, kemaren aja kamu enak aja maksa-maksa istri saya buat bayar. Lah sekarang saya minta uang saya kembali harus ke kantor?" Tambah pucatlah sales itu. Katanya si sales tidak membawa uang, uang sudah disetorkan kemaren ke kantor.
Akhirnya saya mengambil handphone, dial nomer kantornya.. saya serahkan ke sales. Silahkan kalau mau ngomong ke orang kantor. Saya taunya urusan saya beres. Sang sales terdengar berbicara dengan managernya kurang lebih 5 menit, kemudian menyerahkan handphone ke saya. "Manager saya mau bicara sama bapak". Begitu katanya.
Suara wanita terdengar dari seberang, masih seperti yang sales bilang. Bahwa kalau uang DP tidak bisa kembali 100%. "Sudah ada tanda tangan pembeli di nota, karena kantor taunya seperti itu". Bela sang manager. Lalu saya timpali "Saya tau kantor ibu taunya seperti itu, tapi apa Ibu ngerti bagaimana karyawan ibu memasarkan barang dengan paksaan". "Kalau saya tidak bisa mengambil uang DP yang kemaren, saya akan masukan ini ke Surat Pembaca Surat Kabar Nasional". Mampus! saya juga bisa mengancam!
. Akhirnya sang manager menawarkan kalau gak sore ini, besok uang akan di antar dan barang yang sudah terpasang sekalian besok di lepas. Karena kasihan pegawainya kalau harus bolak balik, sekarang pegawainya gak bawa uang. Begitu katanya. Saya pun menyetujuinya. Sebelum mengakhiri pembicaraan dengan saya, sang manager bilang bahwa dia akan ngomong ama pegawainya.
Entah apa yang dibicarakan antara sales dan managernya. Akhirnya sales berjalan ke arah dapur. Saya bingung, saya tegur dia. "Mas, kata managernya barangnya di biarin dulu. Sekalian besok masnya kesini lagi bawa uang DPnya".
"Ini saya lepas, uangnya nanti ini pak". (sambil menepuk saku tempat dompet di belakang celananya). Busetttt, tadi dia bilang gak bawa uang. Managernya pun bilang begitu.. gebleg!
Akhirnya saya biarkan dia melepas alat yang telah di pasangnya, dan menggantinya dengan barang lama yang telah dia lepas kemaren sore.
Setelah memasang kembali, sang sales merogoh dompetnya. Dan menyerahkan uang DP Rp 100.000 kepada saya. "Ini pak", katanya.
"Ya, terima kasih". ujarku dengan menatap wajah sales tersebut.
Wajah yang penuh keringat, dan hati yang sangat dongkol saya rasa. Pagi pagi sudah kena marah. Belum lagi nanti di kantor, mungkin dia akan kena marah lagi ama managernya.
Sebetulnya hal ini tidak perlu terjadi apabila istri saya tidak mengijinkan masuk sales tadi. Atau, sang sales menawarkan barang dagangannya dengan sopan. Tidak dengan asal pasang barang dagangannya dan memaksa konsumen untuk membeli. Dan lagi, 300.000 untuk harga regulator dan selang tabung yang belum tahu kualitasnya seperti apa. Persis seperti membeli karung diisi kucing!.
Setelah sales itu pergi istri saya bilang sesuatu kepada saya; "Kalau kamu marahin orang, ternyata menakutkan ya"
![]()





Visit My Website
June 15, 2009
Permalink
istri memang harus diberikan bekal pengertian apabila ada sales2 semacam itu mas, jangan sampai diterima apalagi masuk kedalam rumah, cukup berbahaya, tp tindakan anda mantab
Visit My Website
June 15, 2009
Permalink
sial gagal pertamax
Visit My Website
June 15, 2009
Permalink
ketigaxxxxxxxx
setubuh gan hajar seles2 kurang ajar
Visit My Website
June 17, 2009
Permalink
Bener kue ru kurang ajar, umahku be tau meh arep kena kaya koe, ndilalah aku pas bali, langsung bae tak semprot, wong anu nembe diganti koh arep diganti maning…
Visit My Website
August 8, 2009
Permalink
untung selangnya LPG yang dicopotin. Kalau……………….? wah jadi berabe. Oleh karena itu, bagi isteri-isteri, jangan menerima orang yang bukan muhrimnya, apalagi tidak kenal, jika suami tidak di rumah.
Visit My Website
August 22, 2009
Permalink
itu strategi sales buat nge-push pembeli om.
emang ga bagus sih cara seperti itu. dan sepertinya managernya pun tau cara itu digunakan.
dan misalnya consumen ga seberani om ngamuk2 minta dp kembali, trus ngebiarin dp nya ilang, si sales udah untung tanpa harus nagih kekurangannya.
salut buat om yang dah ngasih pelajaran sales tsb.
Visit My Website
September 13, 2009
Permalink
Ceritanya persis terjadi pagi ini di rumah kami.
Dengan iming-iming “survey dari LPG”, 2 petugas muda dengan seragam putih – hitam, memaksa untuk masuk. Kebetulan ada kerabat kami yang datang untuk ambil stroller, sehingga suami membuka pintu depan.
Waktu saya minta surat ijin RT, mereka gelapan & bilang bahwa surat tsb ada di supervisor mereka. Mereka tidak menngunakan tanda pengenal. Hanya ada tulisan :
“crew” pada sisi dada kanan kemeja putih.
Dengan agak terpaksa, saya ijinkan mereka masuk lewat dapur & mereka langsung melakukan demonstrasi.
Idenya sih boleh juga, regulator otomatis merk “Biogaz” ber-SNI yang tidak akan mengeluarkan gas-nya bila kompor dalam keadaan mati & selang tiga lapis : anti bakar – anti tikus – vacuum.
Harga 400rb-an per set, tapi hari ini diskon menjadi 300rb.
Saya minta no. telp mereka, tapi mereka menolak halus dengan berbagai alasan.
Wah, saya kan harus nge-check dulu sama RT & warga sini, apa benar mereka juga sudah pakai & dapat penyuluhannya, koq kita nga tahu ya ? tanya saya sambil melirik suami. Jelas ini sih bukan dari kantor LPG.
Akhirnya kedua “sales” tadi pamit & kami ucapkan terima kasih untuk demonya.
Masak sales mau nipu sales ?
Visit My Website
September 13, 2009
Permalink
cerita yang menarik ibu kim ..
terima kasih telah berbagi cerita disini ..
memang kita harus jeli terhadap sales yang kurang ajar ..
Visit My Website
October 31, 2009
Permalink
saya pernah juga didatangi sales seperti itu. ngaku-ngaku dari dinas LPG dan menyodorkan kliping berita kebakaran. Langsung minta liat kompor dan tabung gas. Menakut-nakuti kita dengan mengatakan bahwa regulator kita jelek, dsb. Ujung-ujungnya nawarin regulator baru.
Akhirnya, mereka pergi dengan kecewa karena gak tau kalo saya adalah distributor penjual tabung gas dan regulator. Malah saya tawarin mereka barang-barang saya. rasain.
Visit My Website
December 2, 2009
Permalink
mas e nggapleki ik =D
aku ya di datangin mas, sama petugasnya
tak bilang kalo bisa cicil 3 bulan saya beli sekarang
Visit My Website
December 12, 2009
Permalink
wah..aku kena tuh dibo’ongin sm salrs itu…emg rada susah saya orgnya untuk nolak…mdh”an aja mslh maintenancenya nanti lancar…dan paling enggak itu regulator sm selang bisa awet 2thn..
nasib…300rb bisa bwt susu anak 1bln..T_T
Visit My Website
December 13, 2009
Permalink
kejadian yg sama menimpa saya pada hari jumat tgl 11 des ‘09, dlm hati sih ragu 2 sama “petugas LPG” itu… tapi kok akhirnya aku beli juga…yah mudah 2 an aja barangnya beneran bagus, walaupun nyesel sih beli….
Visit My Website
December 25, 2009
Permalink
Anda menghakimi tanpa …. Andai anda tau apa yg sebenarnya terjadi dengan instalasi gas anda, mungkin anda akan sangat berterima kasih dengan petugas yang datang. Coba tanyakan kejelasan terlebih dahulu.
Visit My Website
December 26, 2009
Permalink
saya sudah kena/ketipu tiga thn yg lalu.hampir 450.000 hilang
karena saya tdk pikir panjang lagi saat itu karena alasan safety, dimana regulator yg lama baru juga dibeli.
sales tsb mengaku sub dari pertamina, namun saat saya hubungi kembali ternyta tdk ada,
dua minggu yg lalu ternyata regulatornya bocor, untuk saja dapur saya banyak kisi-kisi angin sehingga gas yg bocor keluar.
saya hnya berdoa pasti Tuhan akan memberi pelajaran yg setimpal thp penipu spt ini dan saya iklaskan semoga saya mendpat beruntungan dilain hari