Archive for the ‘Fenomena’ Category
Posted on December 7, 2005 - by Arif
Dead link di Suara Merdeka Cybernews
Padahal sudah 2 hari yang lalu saya kirimkan email tentang "dead link" pada harian suaramerdeka versi online kepada pihak redaksi. Bukan, bukan saya terlalu peduli dengan suaramerdeka sehingga saya harus bersusah payah memberitahukan link yang mati kepada redaksinya. Tetapi lebih kepada link yang mati tersebut, ya link itu berada di kolom serambi kolom yang setiap hari saya selalu check apakah ada yang baru atau tidak. Mungkin saja jika dead link tersebut tidak pada kolom serambi, saya tidak akan protes seperti ini.
Kolom serambi tersebut di tulis oleh Bapak Prie GS, sayang sekali informasi tentang Bapak yang satu ini di internet tidak selengkap yang saya inginkan. Padahal saya ingin sekali mengetahui lika liku tentang Prie GS tersebut. Tulisan tulisannya sungguh hebat, meskipun saya baru membacanya hanya di kolom serambi dan menemukan kumpulan kumpulan lainnya. Dilihat dari tulisan tulisan beliau, jelas sekali terlihat kepercayaan diri yang sangat besar disamping juga karakter smartnya. (more…)
Posted on October 30, 2005 - by Arif
Minal aidin wal faidzin bukan ucapan minta maaf
Teringat dikampungku dulu, setiap sore selama bulan ramadhan diadakan pengajian di masjid. Dan saya (dulu) kebetulan mengikuti pengajian tersebut. Kebetulan pengajian tersebut pada hari-hari akhir bulan ramadhan, jadi sedikit menyinggung tentang lebaran dan tata cara maaf-maaf-an pada hari Raya Idul Fitri.
Tidak banyak yang saya ingat, maklum ingatan saya termasuk dalam kategori 'payah'. Tetapi ada sedikit yang masih saya ingat sampai sekarang, yaitu tentang pengucapan maaf pada saat silaturahmi ( halal bi halal ).
Sering saya mendengar sendiri ( atau bahkan saya melakukannya dulu) ketika seorang teman menyalami saya masih dalam suasana lebaran tentunya dengan kata-kata
Minal Aidin Wal Faidzin yah
Jika kita cuma mengucapkan kata kata tersebut, kita berarti belum meminta maaf. Karena "Minal Aidin Wal Faidzin" itu artinya kurang lebih
(Semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali kepada yang fitrah dan (semoga kita) menjadi orang yg beruntung dengan mendapatkan rahmat, pengampunan dari segala dosa, serta terhindar dari api neraka
Jadi di dalam kontek kalimat tersebut tidak ditemukan sedikitpun kalimat yang menyebutkan "permintaan maaf".
Anggapan kalimat "Minal Aidin Wal Faidzin" sebagai ucapan permintaan maaf menurut saya karena kalimat tersebut sering diucapkan ataupun dituliskan secara berurutan.
Minal Aidin Wal Faidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin
Karena banyaknya kartu ucapan selamat hari raya idul fitri mencetak seperti itu, maka biasanya masyarakat pada umumnya menyimpulkan bahwa Minal Aidin Wal Faidzin artinya ya Mohon Maaf Lahir Batin.
Nah sekarang, bagaimana ucapan yang seharusnya dilakukan jika kita bersilaturahmi pada suasana lebaran. Tentunya rekan-rekan sudah tahu jawabannya. Minimal dengan mengucapkan
Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Karena kalimat tersebut selain mendoakan kita juga sudah meminta maaf.
Kalau mau yang lengkap, sebutkan saja kesalahan-kesalahan kita kepada orang yang kita ajak bermaafan.
Sekiranya itu yang bisa saya ingat dari pengajian di sore hari bulan ramadhan (dulu).
Posted on August 14, 2005 - by Arif
Jelang Hari Kemerdekaan
Untuk merayakan kemerdekaan suatu negara tidak lengkap bila ada tidak diadakan berbagai perlombaan apalagi untuk sebuah negara yang besar. Begitu juga di negaraku ini, banyak pula lomba di adakan menjelang hari kemerdekaan. Dari lomba yang sifatnya personil sampe yang berkelompok. Lomba lomba yang biasa di adakan di negaraku adalah :
lomba balap korupsi, lomba makan uang rakyat, lomba meracik narkoba, balap demo, lomba merampok, lomba panjat jabatan, lomba menimbun BBM, lomba bakar rumah, lomba masuk rumah sakit, lomba serbu jemaat sesat, lomba cetak uang palsu, lomba mogok kerja, lomba berjudi, lomba mabok mabokan, lomba ledakin BOM.
Dan tadi, saya mendengar dari beberapa pedagang yang sedang ngobrol, sembari saya mengais sampah-sampah di pasar. Ternyata lomba lomba itu tidak saja diadakan menjelang hari kemerdekaan negaraku, lomba lomba itu bahkan sudah menjadi rutinitas tiap-tiap orang di negaraku.
Ah … kemana saja aku selama ini.
Posted on August 12, 2005 - by Arif
Mau Pintar? Kok Mahal


Sebenarnya ini sudah lama terpendam di tempurung kepala saya, sebuah pemikiran sederhana tentang-untuk menjadi pintar. Saya tergelitik untuk menulis setelah saya melihat iklan di televisi, iklan itu yang menggambarkan seorang pria dengan tas penuh berisi uang logam dan di hadapannya terpampang toga dengan harga yang berbeda beda. Ok, saya tidak membahas lebih lanjut lagi tentang iklan tersebut.
Semua orang ingin menjadi pintar. Pintar dalam hal ini berkaitan dengan ilmu akademik atau ilmu yang di ajarkan melalui seorang guru kepada murid di dalam lingkungan pendidikan.
Dan untuk menjadi pintar tersebut di perlukan beberapa komponen dan langkah yang harus di lewati. Komponen pertama yang di perlukan adalah jelas yaitu Otak; otak di perlukan untuk berfikir dan semua orang pun memilikinya. Komponen ini sangat tergantung kepada pemiliknya, jika pemiliknya rajin melatih otak tersebut pasti menjadikan pemiliknya menjadi cerdas dan begitupun sebaliknya. Kecuali jika saat dilahirkan otak tersebut mengalami keganjilan, itu lain lagi.
Dan komponen lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah pelatihan otak itu sendiri. Pelatihan pertama dilalui ketika kita masih bayi, ketika mulai belajar bicara, jalan dan lain sebagainya. Dilanjutkan dengan kita bersekolah, playgroup, tk, sd, hingga yang paling tinggi adalah Perguruan Tinggi.
Dan jika kita tidak saja hidup di negeri antah-berantah ini mungkin segalanya akan beres. Tapi ingat kita hidup di negeri yang makmur, negeri yang-sejak-dulu-kala-selalu-di-puja-puja-bangsa. Jadi tidak segampang telapak tangan di balik jika kita ingin menjadi pandai di negeri ini. Apalagi bagi kelompok masyarakat yang menyandang predikat "miskin", seperti saya. Dikampungku saja untuk masuk ke Taman Kanak kanak dibutuhkan hampir sekitar satu juta, itu baru uang pendaftaran saja. Dan tetanggaku yang mempunyai anak berusia 4 tahun itu pontang-panting mencari pinjaman sana sini. Itu terjadi dikampung, bagaimana biaya sekolah di kota kota yang jauh disana itu. (more…)
Posted on July 29, 2005 - by Arif
Hasil Munas MUI VII
Seperti kita ketahui bersama, MUI mulai tanggal 25 Juli melaksanakan Munas yang ke VII yang bertema "Meneguhkan Khidmah, Membangun Khoiro Ummah".
Munas berlangsung lima hari, dan berakhir hari ini (Jum'at,red.) dengan di tutupnya acara tersebut oleh Wapres Jusuf Kalla.
Tidak seperti Munas Munas yang lalu yang paling hanya mengeluarkan 3 atau 4 fatwa, Munas kali ini mengeluarkan banyak fatwa yaitu sampe 11 Fatwa.
Berikut adalah 7 fatwa haram yang di keluarkan pada MUNAS ke VII:
- Eutanasia. "Untuk eutanasia aktif seperti suntik kami haramkan, namun jika pasif seperti pencabutan alat bantu karena ada yang lebih membutuhkan dan kemungkinan hidupnya lebih besar maka tidak apa-apa,"kata Maruf.
- Perkawinan beda agama.
- Siaran televisi yang mempublikasikan ramalan dan hal gaib. "Acara ramalan dan setan yang banyak di tv termasuk haram karena menyesatkan bagi umat,"ujar Maruf.
- Kewarisan beda agama.
- Wanita menjadi imam dalam sholat.
- Ahmadiyah. Menurut Maruf, Ahmadiyah merupakan aliran sesat jadi termasuk haram. Karena menimbulkan kesesatan dan menyesatkan pengikutnya, untuk itu ia meminta pemerintah menutup dan melarang aliran Ahmadiyah di seluruh Indonesia. Bahkan pengikutnya dianggap keluar dari Islam.
- Liberalisme dan pluralisme hampir diharamkam. Menurut Maruf, MUI tidak setuju namun karena waktu pembahasan tidak cukup maka masuk dalam rekomendasi munas mendatang. "Liberalisme itu memandang agama dengan alam pikiran, sedangkan pluralisme berarti membenarkan semua agama,"kata Maruf.
Disini ada dua hal yang saya sangat setujui, dan satu hal yang saya tidak setujui. (more…)
Posted on July 14, 2005 - by Arif
Grebegan!
Tadi sekitar jam setengah dua belas malam, 2 jam yang lalu dari sekarang ada sebuah kejadian yang ANEH. Begini ceritanya, ketika kami (karena kami berempat) sedang duduk di depan warnet kami dikejutkan oleh beberapa anggota POLISI yang datang ke tempat kami. Tapi mereka tidak masuk, mereka hanya di luar. Apa yang di lakukannya di depan warnet?. Bukan soal sweeping software, bukan pula mau memakai jasa internet.
Mereka di luar menangkap para penjudi ( baca: main kartu pake taruhan duit ).
Di luar warnet tempat saya bekerja memang setiap malam selalu saja di jadikan tempat berjudi kartu. Malam ini mungkin malam yang naas bagi mereka. Mereka di ciduk POLISI!.
Saya waktu itu hanya berfikir mungkin inilah program KAPOLRI yang baru, yang menginstruksikan seluruh KAPOLDA untuk memberantas judi. Saya pun sempat kagum saat itu.
"Dengan dirazia dan ditutup, itu kan nggak sulit,"
Itulah ucapan KAPOLRI yang baru Jenderal Polisi Sutanto di sela sela acara serah terima jabatan KAPOLRI dari Jenderal Polisi Da`i Bachtiar Senin (11/7).
Tapi kekaguman saya berubah menjadi apalah namanya, kekecewaan mungkin tepatnya. (more…)


