Posts Tagged ‘Work’
Posted on June 30, 2008 - by Arif
Got ERROR
Uhhuh, NMI received for unknown reason a8 on CPU 0.
You have some harware problem, likely on the PCI bus
Dazed and confused, but trying to continue
Uhhuh, NMI received for unknown reason 2c on CPU 0.
Do you have a strange power saving mode enabled?
Dazed and confused, but trying to continue
Posted on June 10, 2008 - by Arif
tired
hufff ![]()
Posted on January 31, 2006 - by Arif
Hari ini, satu tahun yang lalu
Hari ini, satu tahun yang lalu ….
eh ternyata baru post, setelah sekian lama. selamat tahun baru 2006 dan selamat tahun baru 1427H
Posted on August 7, 2005 - by Arif
Coba mati ?
Hari ini ada pengumuman dari PLN kalo jam 08.00 pagi ampe jam 16.00 sore ntar listrik bakal mati di komplek warnet ini. Pemeliharaan Konstruksi Jaringan begitu tertulis di pengumumannya.
Tapi kok ini udah jam 08.55 belum juga mati ya
, padahal khan kalo mati enak juga. Soalnyah sayah hari ini kerja lembur. Dari jam 08.00 ampe jam 24.00. Coba kalo mati khan lumayan ngirit tenaga
.
Ayo PLN, mana janjimu ![]()
Updated: 7 Agustus 2005 15.51
Wah ternyata tadi mati listriknya jam 09.30. Trus nyala lagi tadi barusan sekitar jam 15.30. Lumayan nyante lah lemburnya ![]()
Posted on August 1, 2005 - by Arif
Jelajah Jiwa
Tanggal 1 pada awal bulan identik dengan penerimaan gaji, dan penerimaan gaji identik dengan kebahagiaan. Kebahagiaan telah menaklukan tugas dan menikmati hasil kerja sebulan penuh. Tapi tampaknya suasana itu tidak berlaku pada laki laki itu. Ya, laki laki itu; terlihat jelas dari raut mukanya pada saat membuka amplop dan membaca tulisan yang tertera pada slip gaji. Empat ratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Ia menerawang, jauh … menembus atap atap bertingkat tingkat.
Padahal ia harus melunasi kewajibannya di bulan lalu dan jumlahnya lebih besar daripada gaji yang ia terima, tadi.
"Ah, kenapa ini bisa terjadi,…." ia mendesis. Lirih suaranya hampir tak ada yang mendengar dan tak jelas dia berbicara dengan siapa, karena tak ada orang di sekitarnya hanya ruangan yang baginya kosong, melompong.
"Mungkin karena kerjaku memang seperti ini, jadi di gaji murah meriah seperti krupuk segi empat berwarna putih yang ada di warteg warteg pinggir jalan itu" sergahnya, menjawab pertanyaan yang tadi ia lontarkan sendiri.
"Tapi jika aku tidak kerja seperti ini, lantas kerja apa. Bisaku hanya itu itu saja" pikirnya, lagi.
"Ah tapi tidak, aku harus berusaha. Mungkin teman tadi yang memberiku url: lowongan perlu kucoba" aneh, ia bicara sendiri.
Tak banyak yang tau dimana ia bekerja. Tetangga tetangganya pun tidak tau pasti dimana ia bekerja. Setiap sore ia pergi, dan nanti malam saat tetangganya sedang lelap dalam mimpi, ia baru pulang dan tak jarang setelah subuh. Dan nyaris di siang hari ia pun tak pernah terlihat. Empat bulan terakhir ini rasanya begitu berat ia jalani, lihat saja matanya nyaris tak bersinar. Persis seperti unggas terjangkit avian influenza yang marak akhir akhir ini di beritakan di media massa. (more…)
Posted on July 16, 2005 - by Arif
Uang logam dan si kaya raya
Sore ini dia datang lagi, memang sudah menjadi kebiasaannya ketika sore menjelang dia pun harus pulang "ngantor". Seperti kebiasaannya pula dia datang kesini, ke warnet tempat aku bekerja. Dia …. ya dia adalah seorang lelaki kecil berumur 11 tahunan.
Dia bekerja sendiri, di bawah terik matahari. Menadahkan tangan sambil sedikit bernyanyi yang kurang jelas di dengar telinga ketika lampu di perempatan jalan berubah warna menjadi merah, itulah pekerjaannya.
"Bos nuker ora (bos nuker enggak)" suaranya besar, mungkin karena kebiasannya menyanyi setiap hari.
Dia membawa uang logam, sekantong penuh.
"Ngeneh tek itung disit (sini aku itung dulu)" timpalku sedikit curiga. Dengan gajiku yang sebulan hanya sebatas UMK, sudah hanya sebatas UMK di kota kecil pula aku bekerja di tambah lagi dengan seringnya aku tombok. Alasan lainnya adalah dari penampilan anak itu, yang sangat lain di banding anak anak normal seusianya, pakainnya sungguh kumal, mukanya menghitam tidak beralas kaki pula. Jadi pantaslah saya curiga kepada anak sekecil itu, daripada nanti aku tombok lebih baik aku hitung koin sekantong penuh itu.
"Wolulas ewu (delapan belas ribu)" kataku sambil menyerahkan uang puluhan ribu dan lima ribuan masing masing satu di tambah dengan uang ribuan kertas 3 buah.
"Makasih ya" katanya sambil melangkah pergi. Itulah yang dilakukannya setiap sore di warnet tempat aku bekerja. Menukar uang hasil ngamen di perempatan.
Tapi sungguh hebat anak ini, setiap hari dia bisa mengantongi uang minimal Rp 20.000. Itu uang logamnya saja, belum lagi uang kertas yang dia tidak tukarkan. Jadi kalo di hitung per bulan dia bisa mengantongi uang Rp 600.000. Luar biasa!.
Saya saja yang sudah punya satu istri dan satu anak, satu bulannya tidak sampai mendapatkan uang sebesar itu. (more…)
Posted on July 10, 2005 - by Arif
Bosen
Alhamdulillah perjalanan mudik maupun baliknya lancar lancar aja, meskipun setelah sampai rumah Jum'at kemaren si rofiq sempet nangis lama. Mungkin karena capek menempuh perjalanan jadi sempet rewel waktu tiba dirumah.
Cukup menyenangkan juga di kampung dengan suasana yang "kampung banget" sangat menyegarkan otak. Penginnya sih lama di kampung tapi istriku minta pulang terus, gak kerasan katanya
.
Udah sampai lagi di Purwokerto malah tinggal bingung, mau kerja ogah ogahan. Akhirnya gak masuk deh, yang pasti udah bosen banget kerja di warnet
. Super jenuh deh rasanya, sampe bolos berhari hari. Ga tau kapan mau masuk lagi …
bosennnnnn ……
Ada yang pernah ngalamin bosen yang sangat luar biasa seperti saya ![]()


